Minggu, 11 September 2011

CHANOYU (Upacara Minum Teh Jepang)


1. Sejarah Upacara Minum Teh Jepang
 Upacara minum teh (茶道 sadō, chadō, jalan teh) adalah ritual tradisional Jepang dalam menyajikan teh untuk tamu. Pada zaman dulu disebut chatō (茶の湯) atau cha no yu. Upacara minum teh yang diadakan di luar ruangan disebut nodate.
Produksi teh dan tradisi minum teh dimulai sejak zaman Heian setelah teh dibawa masuk ke Jepang oleh duta kaisar yang dikirim ke dinasti Tang, Tiongkok. Literatur klasik Nihon Kōki menulis tentang Kaisar Saga yang sangat terkesan dengan teh yang disuguhkan pendeta bernama Eichu sewaktu mengunjungi Provinsi Ōmi di tahun 815. Catatan dalam Nihon Kōki merupakan sejarah tertulis pertama tentang tradisi minum teh di Jepang.
Pada masa itu, teh juga masih berupa teh hasil fermentasi setengah matang. Teh dibuat dengan cara merebus teh di dalam air panas dan hanya dinikmati di beberapa kuil agama Buddha sehingga belum populer.
Di zaman Kamakura, pendeta Eisai dan Dogen menyebarkan ajaran Zen di Jepang sambil memperkenalkan matcha yang dibawanya dari Tiongkok sebagai obat. Teh dan ajaran Zen menjadi populer sebagai unsur utama dalam penerangan spiritual. Penanaman teh lalu mulai dilakukan di mana-mana sejalan dengan makin meluasnya kebiasaan minum teh.
Permainan tebak-tebakan daerah tempat asal air yang diminum berkembang di zaman Muromachi. Permainan tebak-tebakan air minum disebut Tōsui dan menjadi populer sebagai judi yang disebut Tōcha. Pada Tōcha, permainan berkembang menjadi tebak-tebakan nama merek teh yang diminum.
Pada masa itu, perangkat minum teh dari dinasti Tang dinilai dengan harga tinggi. Kolektor perlu mengeluarkan banyak uang untuk bisa mengumpulkan perangkat minum teh dari Tiongkok. Acara minum teh menjadi populer di kalangan daimyo yang mengadakan upacara minum teh secara mewah menggunakan perangkat minum teh dari Tiongkok. Acara minum teh seperti ini dikenal sebagai Karamono suki dan ditentang oleh nenek moyang ahli minum teh Jepang yang bernama Murata Jukō. Menurut Jukō, minuman keras dan perjudian harus dilarang dari acara minum teh. Acara minum teh juga harus merupakan sarana pertukaran pengalaman spiritual antara pihak tuan rumah dan pihak yang dijamu. Acara minum teh yang diperkenalkan Jukō merupakan asal-usul upacara minum teh aliran Wabicha.
Wabicha dikembangkan oleh seorang pedagang sukses dari kota Sakai bernama Takeno Shōō dan disempurnakan oleh murid (deshi) yang bernama Sen no Rikyū di zaman Azuchi Momoyama. Wabicha ala Rikyū menjadi populer di kalangan samurai dan melahirkan murid-murid terkenal seperti Gamō Ujisato, Hosokawa Tadaoki, Makimura Hyōbu, Seta Kamon, Furuta Shigeteru, Shigeyama Kenmotsu, Takayama Ukon, Rikyū Shichitetsu. Selain itu, dari aliran Wabicha berkembang menjadi aliran-aliran baru yang dipimpin oleh daimyo yang piawai dalam upacara minum teh seperti Kobori Masakazu, Katagiri Sekijū dan Oda Uraku. Sampai saat ini masih ada sebutan Bukesadō untuk upacara minum teh gaya kalangan samurai dan Daimyōcha untuk upacara minum teh gaya daimyō.
Sampai di awal zaman Edo, ahli upacara minum teh sebagian besar terdiri dari kalangan terbatas seperti daimyo dan pedagang yang sangat kaya. Memasuki pertengahan zaman Edo, penduduk kota yang sudah sukses secara ekonomi dan membentuk kalangan menengah atas secara beramai-ramai menjadi peminat upacara minum teh.
Kalangan penduduk kota yang berminat mempelajari upacara minum teh disambut dengan tangan terbuka oleh aliran Sansenke (tiga aliran Senke: Omotesenke, Urasenke dan Mushanokōjisenke) dan pecahan aliran Senke.
Kepopuleran upacara minum teh menyebabkan jumlah murid menjadi semakin banyak sehingga perlu diatur dengan suatu sistem. Iemoto seido adalah peraturan yang lahir dari kebutuhan mengatur hirarki antara guru dan murid dalam seni tradisional Jepang.
Joshinsai (guru generasi ke-7 aliran Omotesenke) dan Yūgensai (guru generasi ke-8 aliran Urasenke) dan murid senior Joshinsai yang bernama Kawakami Fuhaku (Edosenke generasi pertama) kemudian memperkenalkan metode baru belajar upacara minum teh yang disebut Shichijishiki. Upacara minum teh dapat dipelajari oleh banyak murid secara bersama-sama dengan metode Shichijishiki.
Berbagai aliran upacara minum teh berusaha menarik minat semua orang untuk belajar upacara minum teh, sehingga upacara minum teh makin populer di seluruh Jepang. Upacara minum teh yang semakin populer di kalangan rakyat juga berdampak buruk terhadap upacara minum teh yang mulai dilakukan tidak secara serius seperti sedang bermain-main.
Sebagian guru upacara minum teh berusaha mencegah kemunduran dalam upacara minum teh dengan menekankan pentingnya nilai spiritual dalam upacara minum teh. Pada waktu itu, kuil Daitokuji yang merupakan kuil sekte Rinzai berperan penting dalam memperkenalkan nilai spiritual upacara minum teh sekaligus melahirkan prinsip Wakeiseijaku yang berasal dari upacara minum teh aliran Rikyū.
Di akhir Keshogunan Tokugawa, Ii Naosuke menyempurnakan prinsip Ichigo ichie (satu kehidupan satu kesempatan). Pada masa ini, upacara minum teh yang sekarang dikenal sebagai sadō berhasil disempurnakan dengan penambahan prosedur sistematis yang riil seperti otemae (teknik persiapan, penyeduhan, penyajian teh) dan masing-masing aliran menetapkan gaya serta dasar filosofi yang bersifat abstrak.
Memasuki akhir zaman Edo, upacara minum teh yang menggunakan matcha yang disempurnakan kalangan samurai menjadi tidak populer di kalangan masyarakat karena tata krama yang kaku. Masyarakat umumnya menginginkan upacara minum teh yang bisa dinikmati dengan lebih santai. Pada waktu itu, orang mulai menaruh perhatian pada teh sencha yang biasa dinikmati sehari-hari. Upacara minum teh yang menggunakan sencha juga mulai diinginkan orang banyak. Berdasarkan permintaan orang banyak, pendeta Baisaō yang dikenal juga sebagai Kō Yūgai menciptakan aliran upacara minum teh dengan sencha (Senchadō) yang menjadi mapan dan populer di kalangan sastrawan.
Pemerintah feodal yang ada di seluruh Jepang merupakan pengayom berbagai aliran upacara minum teh, sehingga kesulitan keuangan melanda berbagai aliran upacara minum teh setelah pemerintah feodal dibubarkan di awal era Meiji. Hilangnya bantuan finansial dari pemerintah feodal akhirnya digantikan oleh pengusaha sukses seperti Masuda Takashi lalu bertindak sebagai pengayom berbagai aliran upacara minum teh.
Di tahun 1906, pelukis terkenal bernama Okakura Tenshin menerbitkan buku berjudul The Book of Tea di Amerika Serikat. Memasuki awal abad ke-20, istilah sadō atau chadō mulai banyak digunakan bersama-sama dengan istilah cha no yu atau Chanoyu.

2. Peralatan Upacara Minum Teh Jepang (Chadougu 茶道具)
                Berbagai macam Chadougu yang tersedia dengan berbagai gaya dan motif  yang digunakan sesuai dengan musim pada saat itu. Berikut ini adalah beberapa komponen penting:
  • Chakin  adalah kain putih kecil persegi panjang yang digunakan untuk menyeka mangkuk teh,.
  • Mangkuk The (Chawan)(茶碗,. Mangkuk teh tersedia dalam berbagai ukuran dan gaya. Mangkuk tebal untuk musim panas dan mangkuk tipis untuk musim dingin.Peti TehPet  
  • Peti The (natsume). Wadah bertutup kecil untuk menyimpan teh bubuk hijau yang digunakan dalam prosedur pembuat. 
  • Sendok The (Chasaku). Sendok teh umumnya terbuat dari sepotong bambu, kadang-kadang ada juga yang dibuat dari gading atau kayu. 
  • Pengocok The (chasen). Ini adalah menerapkan digunakan untuk mencampur teh bubuk dengan air panas. Chasen ini terbuat dari sepotong bambu.

3. Tata Cara Upacara Minum Teh
Chanoyu atau Chado, pada zaman dulu hanya diperuntukkan bagi raja-raja, saudagar, atau petinggi saja. Akan tetapi di zaman metropolitan sekarang, upacara minum teh tak lagi khusus diadakan untuk raja-raja, saudagar atau petinggi, Chado diadakan untuk acara seremonial seperti memperingati hari Kemerdekaan negara Jepang atau menyambut tamu kehormatan.
Falsafah (spirit) Chado adalah wa-ke-sei-jyaku. Wa artinya kedamaian, harmoni manusia, Kei: hormat kepada yang lebih tua, rasa kasih sayang kepada teman atau yang lebih muda, Sei: kebersihan & kebenaran juga melambangkan hati manusia yang tenang dan santai (wabi, sabi), sedangkan Jyaku: hal yang paling utama dari Chado.
Banyak sekali aturan yang harus diperhatikan untuk seseorang dapat mengikuti upacara minum teh Jepang. Seseorang hanya akan diundang untuk mengikuti upacara ini, jika si tuan rumah yakin orang yang akan diundang sudah tahu tata cara minum teh. Namun, dewasa ini telah banyak kegiatan-kegiatan untuk sosialisasi mengenai Upacara Minum Teh Jepang.
Upacara minum teh merupakan ritual tradisional Jepang dalam menyajikan teh untuk tamu. Pada zaman dulu disebut chado atau cha no yu yang berkembang terutama dari pengaruh Buddhisme Zen. Upacara minum teh yang diadakan di luar ruangan disebut nodate.
Upacara minum teh bermula dari kebiasaan minum Matcha, yang merupakan teh hijau bubuk. Upacara minum teh digunakan mulai dari pertemuan informal hingga untuk acara resmi yang berlangsung beberapa jam. Gaya penyajian upacara minum teh Jepang sangat berbeda, bergantung pada waktu dan musim. Penyajian dengan Kama (ketel besi) yang dipanaskan pada tungku biasanya dilakukan pada musim panas, sedang pada musim dingin, teh disajikan dalam perapian cekung (Ro). Teh yang disajikan bisa encer atau kental, dengan hanya menggunakan daun teh berkualitas terbaik. Teh encer memiliki volume air 3 kali lebih banyak dibanding teh kental.
Upacara minum teh mencerminkan kepribadian dan pengetahuan tuan rumah yang mencakup antara lain tujuan hidup, cara berpikir, agama, apresiasi peralatan upacara minum teh dan cara meletakkan benda seni di dalam ruangan upacara minum teh (chashitsu) dan berbagai pengetahuan seni secara umum yang bergantung pada aliran upacara minum teh yang dianut.
Chisatsu adalah ruangan yang tidak terlalu besar, bersih, dan pada satu sisi ruang terdapat ceruk (tokonoma) yang dihias dengan lukisan dinding atau kaligrafi yang disebut kakejiku, lalu dilengkapi dengan rangkaian bunga semusim (chabana) dan harum-haruman. Sementara itu di satu sudut ruangan, segala peralatan untuk minum teh juga tertata rapi, mulai dari perapian untuk merebus air (tungku), guci, bubuk teh dan sendoknya, pengocok, dan mangkuk keramik yang sesuai dengan musim dan status tamu yang diundang. Jadi, ruangan harus cukup luas untuk menampung semua tamu dan peralatan upacara
Dalam percakapan sehari-hari di Jepang, upacara minum teh cukup disebut sebagai ocha (teh). Istilah ocha no keiko bisa berarti belajar mempraktekkan tata krama penyajian teh atau belajar etiket sebagai tamu dalam upacara minum teh.
Pada umumnya, teh yang digunakan adalah teh bubuk matcha yang dibuat dari teh hijau yang digiling halus. Upacara dengan menggunakan teh matcha ini disebut matchadō, sedangkan bila menggunakan teh hijau jenis sencha disebut senchadō.
Seni upacara minum teh memerlukan pendalaman selama bertahun-tahun dengan penyempurnaan yang berlangsung seumur hidup. Tamu yang diundang secara formal untuk upacara minum teh juga harus mempelajari tata krama, kebiasaan, basa-basi, etiket meminum teh dan menikmati makanan kecil yang dihidangkan.
Persiapan untuk upacara minum teh sendiri tidak bisa dilakukan jika dadakan, melainkan sudah harus direncanakan 3 – 6 bulan sebelum upacara dimulai. Dalam rentang waktu yang panjang ini, diharapkan orang yang diundang dapat mempersiapkan diri terlebih dahulu, baik dalam hal pakaian yang akan digunakan dalam upacara maupun dalam segi belajar tata cara minum teh.
Ketika waktunya tiba, maka para undangan harus masuk satu persatu ke dalam ruangan tatami dengan jalan yang diatur, yaitu langkah yang agak diseret dan teratur. Sebelum memasuki ruang upacara, tamu terlebih dahulu membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan dan memasuki ruangan dengan kaki kanan setiap menginjak tatami. Kemudian memberi hormat kepada lukisan dan bunga yang telah dipilih tuan rumah sebagai penghias ruangan tatami. Maknanya sendiri adalah tamu diingatkan untuk selalu memberi hormat pada alam dan menjunjung tinggi seni.
Kemudian dengan langkah yang teratur, tamu memberi hormat pula pada tungku dan peralatan untuk membuat teh baru kemudian duduk ala Jepang di atas tatami di tempat yang sudah disiapkan. Setelah tamu pertama duduk di tempatnya, barulah tamu ke dua masuk dan melakukan hal yang sama dan seterusnya sampai tamu habis.
Setelah semua tamu masuk, barulah pembuat teh yang juga merupakan tuan rumah, masuk ke dalam ruang tatami, memberi hormat pada semua tamu dengan sedikit membungkuk-kan badan, tanpa suara. Jika seseorang sudah masuk ke ruang perjamuan minum teh, maka dianjurkan untuk tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Untuk menjaga suasana agar tetap tenang.
Setelah memberi hormat, maka tuan rumah akan memberikan kue manis. Tetapi kue baru bisa dimakan setelah minum teh. Cara memakannya pun tak boleh tergesa gesa, melainkan dengan sikap anggun dan bijaksana. Kue tradisional Jepang (wagashi) yang disajikan bersama koicha adalah kue namagashi ("kue basah") seperti nerikiri.
Kemudian tuan rumah mulai membersihkan alat-alat untuk membuat teh dengan gaya yang sangat anggun dan perlahan. Setiap gerakan harus terlihat alami, elegan dan penuh penghayatan.
Tuan rumah kemudian mengambil tempat di depan peralatan upacara untuk meracik teh hijau. Pertama-tama ia memasukkan daun teh ke dalam mangkuk. Setelah itu menuangkan air dari ketel. Tuan rumah lalu meremas daun teh sampai hancur, menambahkan air panas, dan mengaduk teh dengan cepat dengan alat khusus yang terbuat dari bambu hingga teh berbui
Tamu utama mendapatkan kesempatan pertama untuk minum. Mereka saling membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan. Tamu akan mengucapkan ”otemae chodai itashimasu” kepada tuan rumah saat menerima teh. Sebelum meminumnnya tamu meminta ijin kepada tamu yang lain dengan membungkukkan badan dan mengucapkan ”osakini”.
Ketika kita mengambil cawan teh yang diberikan tuan rumah, teh tidak boleh begitu saja diminum, melainkan harus diputar dulu sebanyak dua kali. Begitu pula ketika mengembalikan cawan tersebut usai kita minum, harus diputar 2 kali dengan gerakan berhenti, seolah memperlihatkan, mengomentari, dan menghargai. desain mangkuk. Setelah teh diminum, pinggiran mangkuk di lap dengan semacam tisu yang diambil dari Kimono.
Atau setiap tamu meneguk tiga setengah kali hingga teh dalam cawan tidak bersisa, membersihkan pinggiran mangkuk dengan kain halus, dan memutar mangkuk dua kali arah jarum jam sebelum menyerahkannya ke tamu berikutnya.
Kemudian sama-sama membungkukkan badan kepada tuan rumah sebagai tanda bahwa teh yang disajikan enak sambil mengucapkan “kekkou na otemae deshita”. Selain itu, cara menyatakan enak adalah dengan menyedot minuman di tetesan terakhir dengan kencang.
Menurut tradisi, jika yang dibuatkan teh belum mengatakan cukup atau terima kasih, maka teh tak berhenti dibuat. Bila yang dibuatkan sudah mengatakan cukup, terima kasih, maka teh akan berhenti dibuatkan. Teh atau Ocha yang dipakai dalam Chanoyu berbeda-beda macamnya tergantung dari daerah yang mengadakan upacara.
Akhirnya, setelah upacara selesai peralatan dibersihkan dan para tamu secara ritual memeriksanya sebelum pergi.

4. Makna yang Terkandung dalam Upacara Minum Teh Jepang
Rangkaian pembuatan teh oleh tuan rumah tersebut dilakukan dengan gerakan yang penuh hikmat dan sarat dengan makna. Demikian pula tamu yang menikmati sajian teh. Teh yang sudah siap, dituangkan ke dalam sebuah mangkuk. Sebelum menyerahkan kepada tamu, tuan rumah memutar terlebih dahulu mangkuk tersebut. Maksudnya, agar gambar pada mangkok tersebut menghadap tamu pada saat diberikan. Demikian pula sebaliknya, tamu memutar mangkuk tersebut agar gambar pada mangkuk menghadap tuan rumah pada saat dikembalikan. Ketika akan minum pun, tamu memutar mangkuknya agar gambar pada mangkuk tidak tersentuh oleh mulutnya. Sebenarnya semua ini merupakan simbol nyata sikap saling menghormati antara tamu dan tuan rumah.
Di akhir upacara ini, tuan rumah tetap menunjukkan sikap hormatnya, dengan memperlihatkan peralatan minum dan teh yang baru saja disuguhkan. Hal ini untuk meyakinkan tamunya bahwa yang terbaiklah yang disuguhkan.
Selama upacara minum teh berlangsung anda akan terkesan dengan filosofi masyarakat Jepang yang sangat menghormati tamu ini. Oleh karena itu bila anda diundang sebagai tamu secara formal dalam upacara minum teh, anda  juga harus mempelajari tatakrama, kebiasa an, basa-basi, etiket minum teh dan menikmati makanan kecil yang dihidangkan.
Masuk ke dalam ruang upacara minum teh di suatu perguruan minum teh, di Jepang, anda akan merasakan seperti masuk ke dalam dunia yang berbeda. “Alam sesudah ini lebih suci dari sebelumnya”, demikian filosofi mereka, sehingga orang yang memasukinya mesti membersihkan terlebih dahulu. Semua perlengkapan yang terbuat dari logam, seperti cincin, jam tangan, anting, dan gelang harus dilepas sebelum masuk ruangan. Perlengkapan minum teh hanya boleh bersentuhan dengan barang-barang lembut. Tangan dan mulut dicuci bersih. Sepatu dilepas. Setiap tamu diberi sebuah kipas sebagai sarana memperkenalkan diri. Kipas itu sebagai ganti pedang bagi para samurai. Aslinya dalam upacara minum teh terbuat dari logam, tetapi saat ini diganti dengan plastik.
Setelah masuk anda duduk melipat kaki dengan rapi, kipas diletakkan di depan lutut, kemudian antara tuan rumah dan tamu saling membungkuk mengucapkan salam. Kemudian dengan tangan kiri, kipas di ambil, disimpan di belakang masing-masing. Setelah itu tuan rumah mengeluarkan perangkat pembuatan teh dan mempersiapkannya.
Dalam tradisi upacara ini, teh disajikan dalam guci atau poci yang terbuat dari tanah liat. Khusus bagian dalam wadah ini tidak boleh dicuci, apalagi disentuh dengan sabun. Aroma sabun akan mempengaruhi aroma teh. Selain itu endapan teh di dalam wadah, akan menambah harum teh yang baru dicelupkan. Dan kenikmatan akan bertambah lagi apabila diminum dengan menggunakan cawan atau mangkuk atau cangkir yang terbuat dari keramik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar